Ah, Pechorin!
![]() |
| photo credit: ebooks.gramedia.com |
Judul Buku : Pahlawan Zaman Kita
Nama
Pengarang : Mikhail Lermontov
Nama
Penerbit : Kepustakaan Populer
Gramedia
Ketebalan
Buku : 208 halaman
Tahun
Terbit : 2009
Halo
semua!
Melalui
tulisan ini saya ingin menceritakan kembali novel karya Mikhail Lermontov yang
berjudul Pahlawan Zaman Kita. Dengan
ini saya harap kawan-kawan bisa lebih memahami apa yang diceritakan Lermontov melalui
novel ini. Meskipun begitu, saya tidak memaksa kawan-kawan untuk sepemikiran
dengan saya terkait alur ceritanya.
Penceritaan
ulang ini akan saya bagi ke dalam dua bagian besar. Pertama, cerita yang didengar
dan disaksikan langsung oleh Lermontov. Kedua, cerita yang didapat Lermontov
melalui catatan perjalanan milik Grigorii Aleksandrovich Pechorin.
Selamat
membaca!
BAGIAN PERTAMA
Saat
itu Lermontov sedang dalam perjalanan dari Tiflis menuju puncak Gunung Koishaur
dengan menumpang sebuah kereta. Bukan kereta api, melainkan kereta yang ditarik
oleh hewan. Oleh sebab itu, perjalanan yang hanya puluhan kilometer pun harus
ditempuh dalam beberapa hari.
Selama perjalanan itu, Lermontov singgah ke beberapa tempat. Pada saat itulah Lermontov bertemu dengan Maksim Maksimich, seorang kapten staf, yang nanti akan bercerita tentang Pechorin kepada Lermontov.
Awal
dimulainya kisah tentang Pechorin dari mulut Maksimich terbilang cukup unik. Saat
itu Lermontov dan Maksimich sedang singgah di sebuah pondok karena muncul badai
salju. Cuaca dingin. Lermontov kemudian menawarkan minuman beralkohol kepada
Maksimich, namun ditolak olehnya. Merasa penasaran, Lermontov bertanya kepada
Maksimich apa sebab ditolaknya minuman tersebut. Maksimich kemudian bercerita
bahwa ia pernah hampir kehilangan nyawanya dikarenakan minuman keras, tepatnya
saat ia bersama Pechorin menghadiri pesta pernikahan orang Cherkes. Namun
sebelum saya menceritakan masalah terkait minuman keras tersebut, perlu
kawan-kawan ketahui, bahwa cerita ini juga akan berkembang menjadi kisah pertemuan
pertama antara Pechorin dengan Bela. Dengan itu, saya memutuskan untuk
menceritakan kisah pertemuan pertama tersebut terlebih dahulu.
Oh
ya, sebelum memulai kisah ini, Maksimich juga sempat menceritakan seperti apa
itu Pechorin. Di mata Maksimich, Pechorin merupakan orang yang baik, namun juga
aneh. Misalnya, ketika di luar gerimis dan udara dingin, ia justru pergi
berburu. Orang lain merasa kelelahan dan kedinginan, ia tidak apa-apa.
Sebaliknya ketika ia di kamar dan udara yang bertiup pun tidak terlalu besar,
ia menggigil dan pucat. Ketika ia sedang berburu, menghadapi babi hutan dan
sebagainya, bisa berjam-jam ia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada
Maksimich. Namun di saat ia sudah mulai bercerita dengan Maksimich, bisa
terpingkal-pingkal mereka tertawa. Di mata Maksimich ia juga terlihat sebagai
orang kaya karena ia punya barang-barang berharga.
Kembali
ke topik terkait pernikahan. Jadi, pesta pernikahan yang dihadiri oleh
Maksimich dan Pechorin saat itu merupakan sebuah pesta pernikahan yang digelar
oleh seorang pangeran Cherkes. Saat itu sang pangeran menikahkan anak
perempuannya yang besar. Sebagaimana pesta pernikahan pada umumnya, para tamu
undangan dihibur dengan berbagai penampilan, antara lain tari-tarian dan
nyanyian. Di sinilah awal Pechorin melihat Bela. Bela yang merupakan anak kedua
pangeran turut serta dalam penampilan. Ia menari di depan Pechorin dan
Maksimich, karena kedua orang Rusia ini merupakan tamu kehormatan. Selepas
melihat tarian Bela, mulailah timbul ketertarikan dalam diri Pechorin. Pechorin
bertekad memiliki Bela. Meskipun begitu, Pechorin bukanlah satu-satunya pria
yang tertarik pada Bela. Ada juga pria lain, Kazbich namanya, yang tidak kalah
tertariknya terhadap Bela. Kazbich juga turut hadir dalam pesta pernikahan itu.
Lalu,
siapa Kazbich? Ia merupakan seorang pemuda non-Rusia yang terkenal lincah dan
memiliki kuda yang luar biasa hebatnya. Bayangkan, Kazbich jarang sekali
menambatkan kudanya ke pohon, pagar, dan sejenisnya. Kuda itu bahkan mampu
untuk kembali kepada tuannya selama tidak dihalang-halangi. Kuda itu juga yang
menjadi pemicu utama keributan pada pesta pernikahan di mana Maksimich hampir
kehilangan nyawanya.
Sebelumnya,
kita sudah mengetahui bahwa sang pangeran mempunyai dua orang putri. Nah, selain kedua putri tersebut,
pangeran juga mempunyai seorang putra, Azamat namanya. Azamat adalah seorang
yang gila uang. Azamat juga orang yang mempunyai tekad kuat dalam mewujudkan
keinginannya, salah satunya memiliki kuda milik Kazbich. Di sela-sela pesta
pernikahan itu, Azamat mencoba membujuk Kazbich untuk menyerahkan kuda
kesayangan Kazbich kepadanya. Maksimich diam-diam mendengar percakapan ini.
Kembali lagi, Azamat bahkan rela menyerahkan sang kakak, Bela, kepada Kazbich.
Bagaimanapun, cinta Kazbich terhadap kudanya jauh lebih besar. Lagipula Kazbich
sedang mempersiapkan mahar untuk melamar Bela secara baik-baik, sehingga
Kazbich pun menolak tawaran Azamat.
Azamat
tidak terima. Keributan pun terjadi di antara keduanya. Tidak lama kemudian,
Azamat keluar dari tempat di mana sebelumnya ia membujuk Kazbich. Azamat
kemudian mengatakan kepada semua yang hadir di pesta pernikahan tersebut bahwa
Kazbich hendak membunuhnya. Perkataan itu diperkuat dengan Azamat yang
mengenakan jaket compang-camping. Para tamu undangan seketika berada di luar
kendali karena pengaruh alkohol. Mereka kemudian berteriak, memaki, dan suara
tembakan berbunyi. Namun Kazbich saat itu sudah berada di atas kudanya,
sehingga ia berhasil lolos dari amukan massa.
Sesampainya
di benteng, Maksimich menceritakan apa yang didengarnya kepada Pechorin.
Muncullah ide dalam diri Pechorin untuk mendapatkan Bela, yaitu dengan
menawarkan bantuan kepada Azamat dalam usaha mendapatkan kuda milik Kazbich,
kemudian sebagai imbalan, Azamat menyerahkan sang kakak, Bela, kepada Pechorin.
Cara itu pun dilancarkan saat Azamat berkunjung ke benteng. Azamat memang
sering berkunjung ke benteng karena Pechorin dan Maksimich kerap memanjakannya.
Namun ketika Azamat mendengar tawaran tersebut dari Pechorin, ia tidak langsung
menerimanya. Ia merenung. Ia berpikir bagaimana cara menculik kakaknya tanpa
diketahui oleh sang ayah. Di sisi lain, Pechorin terus menekan Azamat.
Akhirnya, Azamat pun setuju untuk menukar Bela dengan kuda milik Kazbich.
Keesokan
harinya, Kazbich datang membawa sepuluh domba untuk dijual ke benteng.
Maksimich menemuinya dan menjamunya. Saat ia sedang dalam jamuan tersebut,
datang seorang Kazak yang berusaha mengambil kuda kesayangan miliknya yang ia
tambatkan di luar benteng. Kazbich sebenarnya sudah berusaha sekuat tenaga
untuk merebut kembali kuda tersebut, namun ia dihalang-halangi oleh para
penjaga benteng. Apa mau dikata? Azamat sudah terlanjur berhasil berada di atas
kuda itu. Azamat segera kabur dan Kazbich gagal mempertahankan kuda
kesayangannya. Ia tersungkur ke tanah dan menangis sepanjang hari. Keesokan
harinya ia kembali masuk ke benteng dan bertanya tentang siapa yang sudah
mencuri kudanya. Ia kemudian diberitahu bahwa Azamat lah yang mencuri kudanya.
Tanpa pikir panjang, ia segera pergi ke tempat di mana tinggal bapak Azamat,
sang pangeran.
Kembali
kepada Bela dan Pechorin, ya, Bela berhasil diculik dan dibawa ke benteng. Di
benteng tentu saja Bela tidak merasa senang. Pechorin berikan hadiah-hadiah
kepada Bela, namun ditolak. Pechorin juga coba mempelajari bahasa Tatar untuk
berkomunikasi dengan Bela, sebaliknya Bela mulai terbiasa dengan bahasa Rusia.
Hari demi hari, Bela secara perlahan mencoba menerima Pechorin. Meskipun
begitu, tetap saja ia masih menampakan kesedihan melalui lagu-lagu yang ia
nyanyikan.
Pechorin
tidak menyerah begitu saja. Berbagai cara lain coba ia lakukan. Ia juga coba
memberikan ruang kepada Bela. Ia tanya kepada Bela apakah Bela mencintai
seorang pemuda Chechen sehingga ia tidak bisa menerima Pechorin, Bela
menggeleng. Ia tanya lagi apakah agama yang menghalangi Bela untuk mencintainya,
Bela merenung. Di titik ini Pechorin melihat celah. Ia coba meyakinkan Bela
bahwa Tuhan pasti mengizinkan Bela untuk mencintainya. Bela terlihat tertarik
dengan bujukan tersebut, namun tetap bertahan pada pendiriannya. Kemudian, cara
terakhir pun dilancarkan Pechorin.
Keesokan
harinya, Pechorin berpakaian seperti orang Cherkes untuk menemui Bela. Kemudian
ia katakan kepada Bela betapa ia mencintai Bela. Ia juga mengatakan bahwa ia
mengira Bela akan mencintainya kalau sudah melihat dan tinggal bersama dirinya.
Lalu ia akui bahwa ia salah dalam hal itu. Puncaknya, Pechorin coba tempatkan
Bela dalam dilema. Ia katakan bahwa ia siap dihukum atas kesalahannya dan
bersedia melepaskan Bela kembali kepada ayahnya. Sebagai penutup pembicaraan, Pechorin
membalikkan badan dan mengulurkan tangan kepada Bela sebagai tanda perpisahan. Bela
diam. Pechorin pun melangkah pergi karena uluran tangannya tidak mendapat
sambutan dari Bela. Baru beberapa langkah Pechorin berjalan, Bela segera
melompat, meratap, dan menubruk lehernya. Bela kemudian mengakui bahwa sejak
pertama kali melihat Pechorin, ia selalu mendapati Pechorin dalam mimpinya. Ia
mengakui bahwa tidak ada laki-laki lain yang mengesankan dirinya sebagaimana
Pechorin.
Sedangkan
terkait Kazbich pada paragraf-paragraf sebelumnya, ia berhasil menemui sang
pangeran dan membunuhnya. Ia mengira bahwa Azamat mencuri kuda kesayangannya
dengan persetujuan sang pangeran. Pangeran dibunuh saat ia kembali dari
pencarian putrinya, Bela, yang diculik oleh Pechorin.
Selama
empat bulan pertama setelah Bela bersedia menerima Pechorin, segalanya berjalan
baik. Pechorin menjaga Bela, mencumbunya, dan bahkan meriasnya seperti boneka.
Namun setelah empat bulan itu, Pechorin kembali lagi ke kebiasan lamanya yaitu
berburu. Tidak terlalu masalah sebenarnya kalau Pechorin berburu untuk
menghilangkan kebosanan yang ia rasakan. Masalahnya adalah kegiatan ini semakin
lama semakin membuatnya lupa pada Bela. Pernah suatu pagi ketika Maksimich
singgah ke tempat tinggal mereka, ia mendapati Bela sedang duduk termenung
sendirian. Maksimich kemudian bertanya di mana Pechorin. Bela mengatakan bahwa
Pechorin sudah sejak sehari sebelumnya pergi berburu. Bela menjadi khawatir
dibuatnya. Ia khawatir kalau-kalau sesuatu yang berbahaya terjadi pada
Pechorin. Ia juga khawatir bahwa Pechorin mungkin sudah tidak mencintainya
lagi. Hal itu membuatnya ingin kembali ke kampung di mana ia dulu tinggal,
meskipun di sana ia sudah tidak punya keluarga lagi. Maksimich mencoba
menghibur Bela. Ia mengatakan kepada Bela bahwa wajar bagi seorang pemuda
seperti Pechorin untuk pergi berburu sebagai sarana mengusir kebosanan. Ia juga
mengajak Bela berjalan-jalan di sekitar tanggul benteng untuk melihat
pemandangan sekitar. Di tanggul benteng, Maksimich dan Bela ternyata melihat
Kazbich. Kazbich berada di dekat benteng dan tentu merencanakan sesuatu pada
Bela. Kemungkinan besar Kazbich ingin menculik Bela. Beruntung penjaga benteng
berhasil mengusirnya.
Beberapa
puluh menit kemudian Pechorin kembali ke benteng. Bela segera memeluk leher
Pechorin. Maksimich kemudian menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Sejak saat itu Pechorin melarang Bela untuk berjalan-jalan lagi ke tanggul
benteng.
Anggapan
Bela bahwa Pechorin sudah tidak mencintainya lagi mulai terlihat benar.
Pechorin sudah tidak bersikap mesra lagi terhadap Bela. Tegurannya kepada Bela
berubah dingin. Bela menjadi merana dibuatnya. Maksimich geram melihat ini.
Sore itu Maksimich pun memutuskan untuk berbicara kepada Pechorin.
Melalui
percakapan tersebut, Pechorin mengakui bahwa ia memang merupakan penyebab
kemalangan bagi orang lain. Ia juga mengakui bahwa ia kerap merasakan kebosanan,
meskipun hidupnya serba ada. Misalnya pada masa remaja, ia bisa merasakan
berbagai kenikmatan yang diperolehnya dengan uang, namun tidak lama kemudian
kenikmatan-kenikmatan tersebut berubah menjadi sesuatu yang membosankan.
Selanjutnya saat tumbuh semakin dewasa, ia masuk ke kalangan para bangsawan.
Sebagaimana kenikmatan-kenikmatan tersebut, masyarakat bangsawan itu juga pada
akhirnya membosankan. Ia coba mencintai wanita-wanita cantik, namun cinta
mereka tidak pernah masuk ke dalam hatinya. Cinta mereka hanya merangsang
angan-angan dan rasa gila hormat pada diri Pechorin. Ia coba mempelajari ilmu
pengetahuan, namun sama saja, hal itu juga membosankan. Saat paling
menyenangkan dalam hidupnya ialah ketika dirinya dipindahkan ke Kaukasus. Pada
saat itu ia berharap bahwa kebosanan tak akan pernah lagi menghampiri dirinya,
karena di Kaukasus ia hidup di bawah desingan peluru orang-orang Chechen dan
tentu sangat dekat dengan maut. Lagi-lagi, hanya sebulan setelahnya, ia sudah
terbiasa dengan hal tersebut dan segalanya pun kembali membosankan. Maka itulah
yang dirasakannya atas Bela. Ia bosan. Rasa senangnya pada Bela sebenarnya
hanya beberapa menit, tepatnya saat ia pertama kali melihat Bela di pesta
pernikahan. Ketika ia menceritakan hal ini kepada Maksimich, baginya hanya ada
satu jalan keluar lagi dari kebosanan, yaitu melakukan perjalanan. Ia ingin
pergi ke Amerika, Arabia, atau India. Kebosanan sendiri sering datang kepada
Pechorin karena Pechorin telrlalu mudah untuk terbiasa pada berbagai hal, baik
yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Suatu
hari Pechorin kembali pergi berburu. Ia mengajak Maksimich turut serta
bersamanya. Sebenarnya Maksimich menolak, namun Pechorin berhasil juga
mengajaknya. Bersama lima orang serdadu, mereka berangkat ke hutan pada dini
hari.
Menjelang
tengah hari mereka memutuskan untuk kembali ke benteng. Saat mereka sudah dekat
dengan benteng, mereka mendengar suara tembakan, kemudian mereka melihat
Kazbich berada di atas kuda membawa sesuatu berwarna putih, yang mana adalah
Bela. Adapun Kazbich dapat menculik Bela karena saat itu Bela pergi ke luar
benteng dan duduk di dekat sungai. Ia mengabaikan larangan Pechorin sebelumnya.
Kembali lagi, Pechorin segera mengejar Kazbich dan berusaha menembaknya, namun
tembakan tersebut meleset dan hanya mengenai kaki belakang kuda Kazbich. Kuda
tersebut terjatuh dan Kazbich segera kabur masuk ke dalam semak. Namun sebelum
ia kabur, ia sempat melukai Bela dengan belatinya. Beruntung belati tersebut
tidak mengenai jantung Bela, melainkan punggungnya. Namun tetap saja Bela tidak
sadarkan diri setelah kejadian tersebut.
Hidup
Bela setelahnya tidak bertahan lama, tepatnya hanya dua hari. Sebagaimana
umumnya terjadi pada orang sekarat yang akan menghadapi mautnya, Bela kerap
meracau membicarakan apa saja secara tak beraturan. Misalnya ia merasa sedih
karena di akhirat nanti ia tidak akan bertemu Pechorin. Pikiran itu ada padanya
karena ia penganut agama Islam, sedangkan Pechorin penganut Kristen Ortodoks.
Bela juga kerap merasa kesakitan luar biasa. Ia merasa terbakar, seakan ada
besi panas yang sedang ditempa di dalam tubuhnya. Puncaknya pada malam kedua di
mana ia merintih merasakan sakit yang teramat sangat. Maksimich dan Pechorin
bahkan sama sekali tidak tidur malam itu. Beruntung di malam itu Bela sempat
kembali normal. Ketika nyeri yang dirasakannya mereda, ia membujuk Pechorin
agar beristirahat. Rasa sakit luar biasa kembali dirasakan olehnya menjelang
pagi. Kali ini ajal sudah semakin dekat menjemputnya. Ia mulai bergolek-golek
dan darah kembali mengalir dari tempat di mana ia ditikam dua hari sebelumnya.
Setelah luka tersebut dibebat, ia tenang sejenak. Ia lalu meminta Pechorin
mencium bibirnya, Pechorin pun menuruti kemauan itu. Sejak pagi itu sampai tengah
hari, Bela tenang, diam, dan patuh. Namun setelah lewat tengah hari, lagi-lagi
ia menderita. Ia merasa sangat haus dan meminta diambilkan minum. Setelah
minum, ia menjadi lebih tenang, namun meninggal tiga menit kemudian.
Pada
pagi berikutnya Bela dimakamkan di luar benteng, di dekat sungai, di samping
tempat ia duduk terakhir kali. Setelah kematian Bela pun Maksimich dan Pechorin
tetap menghormati Bela. Mereka berdua tidak memakamkan Bela dengan cara
Kristiani, meskipun Maksimich sebenarnya ingin memberikan salib pada kubur
Bela. Pechorin sendiri menjadi kurus, pucat, dan kurang sehat. Tiga bulan
kemudian, Pechorin dipindahkan ke resimen N., dan ia pun pergi ke Gruzia.
Sampai diceritakannya kisah ini kepada Lermontov, Maksimich belum pernah bertemu
lagi dengan Pechorin.
Setelah
Maksimich selesai menceritakan seluruh kisah tentang Bela dan Pechorin kepada
Lermontov, mereka berdua sempat berpisah untuk sementara sebab Lermontov
melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. Mereka baru bertemu lagi di sebuah
hotel di Vladikaukasus, tempat di mana semua musafir singgah.
Di
hotel ini Maksimich tidak menceritakan apapun lagi kepada Lermontov, sebaliknya
Lermontov juga tidak punya kisah menarik dalam hidupnya untuk diceritakan. Beruntung
Maksimich mahir memasak, sehingga duduk berlama-lama bersamanya dalam diam pun
tidak membosankan. Dalam kehampaan tersebut masuk sebuah kereta kosong yang
terkesan sebagai kereta luar negeri ke pekarangan hotel. Maksimich mencoba
mendekati pesuruh kereta tersebut dan bertanya terkait pemiliknya. Kemudian
pemilik tersebut menjawab bahwa kereta itu milik Pechorin. Betapa terkejut dan
senangnya Maksimich. Ia segera meyakinkan si pesuruh kereta bahwa dirinya ialah
sahabat karib Pechorin. Adapun pesuruh tersebut mengatakan bahwa saat itu
Pechorin makan malam dan menginap di rumah Kolonel N. Segera Maksimich meminta
kepada pesuruh tersebut untuk menyampaikan kepada Pechorin terkait keberadaan
dirinya di tempat itu.
Maksimich
segera duduk di bangku dekat pintu gerbang menunggu kedatangan Pechorin yang
diyakininya akan lari menghampirinya ketika pesuruh tersebut menyampaikan
berita yang dititipkan. Namun sejam lebih berlalu, Pechorin tidak kunjung
datang. Sampai malam pun, Maksimich tetap setia menunggu Pechorin di bangku
tersebut. Ketika malam semakin larut, Maksimich akhirnya masuk juga ke kamar
dengan wajah tidak bahagia.
Keesokan
paginya, Maksimich sudah duduk di bangku dekat pagar kembali. Kemudian ia
katakan pada Lermontov bahwa ia ada panggilan tugas, sehingga kalau Pechorin datang,
ia minta Lermontov menyuruh seseorang untuk memberitahunya. Benar saja, sepuluh
menit setelah Maksimich pergi, Pechorin berjalan menuju hotel sembari menunggu
keretanya disiapkan.
Di
mata Lermontov, Pechorin adalah seorang yang kokoh dilihat dari postur
tubuhnya. Cara berpakaian Pechorin menunjukkan bahwa dirinya seorang gentleman, sedangkan caranya berjalan
menunjukkan bahwa ia orang yang tertutup. Kulit Pechorin halus seperti kulit
wanita. Rambutnya pirang dan bergelombang, sedangkan kumis dan alisnya hitam.
Lermontov menaksir bahwa usia Pechorin sekitar tiga puluh tahun.
Cukup
lama Lermontov menunggu kehadiran Maksimich, padahal pesuruh kereta sudah dua
kali melapor kepada Pechorin bahwa segalanya telah siap. Beruntung Pechorin
tidak terlihat terburu-buru, sehingga Lermontov mendekati Pechorin dan
mengatakan bahwa jika Pechorin bersedia menunggu sebentar saja, maka ia dapat
bertemu seorang kawan lama. Tidak lama kemudian, terlihat Maksimich di kejauhan
berlari sekencang-kencangnya menuju Pechorin dan Lermontov. Maksimich
sebenarnya sudah bersiap memeluk leher Pechorin, namun Pechorin dengan sikap
dinginnya hanya mengulurkan tangan, meskipun Pechorin tetap memberikan senyum
yang menyambut. Sempat tertegun beberapa saat, kemudian Maksimich dengan kedua
tangannya mengenggam tangan Pechorin.
Selama
beberapa menit yang singkat tersebut, Maksimich dengan antusias menanyakan
kabar Pechorin. Ia juga membujuk Pechorin untuk tinggal di sana selama beberapa
saat dan menceritakan kisah hidupnya selama di Petersburg. Namun sayang,
Pechorin benar-benar menolak permintaan tersebut, tentu saja secara baik-baik,
dan mengatakan bahwa ia terburu-buru karena sedang dalam perjalanan ke Persia.
Maksimich kemudian terlihat sedih dan marah, namun berusaha menyembunyikannya.
Pechorin segera memeluk Maksimich dan masuk ke keretanya. Sesaat sebelum kereta
berangkat, Maksimich sempat melaporkan kepada Pechorin bahwa catatan perjalanan
milik Pechorin selalu dibawa olehnya kemana-mana. Maksimich bertanya mau
diapakan catatan perjalanan tersebut. Pechorin kemudian menjawab dengan acuh
tak acuh bahwa catatan-catatan tersebut boleh diperlakukan semau Maksimich.
Kereta semakin menjauh dan Maksimich hanya berdiri terdiam di tempat itu dengan
air mata yang terkadang terlihat berkilau di bulu matanya.
Dalam
keadaan canggung seperti itu, Lermontov coba bertanya terkait catatan atau buku
harian Pechorin yang berada pada Maksimich. Lermontov kemudian meminta buku
harian tersebut, paling tidak daripada dijadikan mesiu oleh Maksimich. Total ada
sepuluh buku yang dikeluarkan Maksimich dari kopornya, tentu, dengan cara
dilempar karena kesal. Lermontov segera mengambil buku-buku itu dan bersiap
pergi karena kereta yang akan membawanya melanjutkan perjalanan sudah siap.
Suasana perpisahan Lermontov dengan Maksimich cukup dingin. Anda tahu sendiri
bagaimana sikap orang yang sedang merajuk. Oh ya, hampir lupa saya katakan,
salah satu yang membuat Maksimich begitu kesal ialah perbedaan umurnya yang
cukup jauh dengan Pechorin, hampir seperti ayah dan anak. Oleh karena itu
Maksimich menganggap bahwa Pechorin malu untuk kembali mengakui Maksimich,
seorang pria tua, sebagai sahabatnya. Selain itu, Maksimich juga sebenarnya
sudah melalaikan panggilan tugas demi pertemuan dengan Pechorin yang sangat
tidak sesuai harapan.
BAGIAN KEDUA
Berikut
cerita pada bagian kedua yang diambil Lermontov dari buku harian Pechorin.
Kota
pertama yang didatangi Pechorin dalam perjalanan dinas menuju pasukan aktif ialah
Taman. Taman merupakan salah satu kota di tepi laut Rusia. Di kota ini Pechorin
bertemu beberapa orang cukup aneh. Pertama, Pechorin bertemu seorang anak
laki-laki buta yang menjadi penjaga di rumah tempat Pechorin singgah. Kedua,
Pechorin bertemu dengan teman si Buta, gadis bernama Yanko, yang nanti berusaha
menenggelamkannya.
Pada
malam pertama di kota tersebut, Pechorin membuntuti si Buta sampai ke pantai.
Di sana si Buta bertemu dengan seseorang. Mereka berdua kemudian menunggu
seorang lainnya, Yanko, yang datang berlayar dari laut. Sesudah lengkap
bertiga, mereka mengeluarkan suatu muatan besar dari dalam perahu dan
membawanya. Terkait isi muatan itu, Pechorin tidak tahu, karena tidak lama
setelahnya Pechorin kehilangan jejak mereka dan ia memutuskan untuk kembali ke
rumah singgah. Satu keanehan lainnya ialah dengan Pechorin si Buta berbahasa
Ukraina, sedangkan dengan kedua orang yang ditemuinya di pantai si Buta murni
berbahasa Rusia.
Keesokan
harinya Pechorin bertemu Yanko. Pada sepanjang hari itu Yanko berkeliaran di
sekitar tempat tinggal Pechorin sambil melompat dan bernyanyi. Cukup aneh
memang. Meskipun begitu, Pechorin tidak melihat tanda-tanda kegilaan pada wajah
Yanko.
Merasa
risih melihat Yanko berkeliaran ke sana ke mari, Pechorin mencoba menghentikan
Yanko pada petang harinya. Pechorin kemudian membuka percakapan dengan gadis
tersebut. Inti dari percakapan itu ialah Pechorin ingin mengetahui nama Yanko,
meskipun sebenarnya Pechorin sudah tahu ketika ia membuntuti si Buta pada malam
sebelumnya. Yanko menolak menjawab. Pechorin kemudian menggodanya dengan
berkata bahwa ia mengetahui satu rahasia tentang Yanko, yaitu ketika ia bertemu
dengan si Buta. Yanko sebenarnya sudah bersikap biasa saja, namun Pechorin
malah menambahkan bahwa ia akan melaporkan rahasia tersebut kepada komandan.
Seketika wajah Yanko berubah menjadi serius, bahkan cenderung galak, namun ia
tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia kembali berlompat, bernyanyi, kemudian
bersembunyi. Percakapan inilah yang nantinya membuat Yanko berusaha
menenggelamkan Pechorin.
Usaha
menenggelamkan Pechorin tersebut dilancarkan Yanko pada malam harinya. Pertama-tama,
ia mencoba menggoda Pechorin dengan memberikan sebuah ciuman. Sebagai seorang
pemuda, Pechorin tentu tergoda, namun Yanko segera melepaskan diri dari Pechorin
seraya berkata kepada Pechorin untuk pergi ke tepi laut ketika semua sudah tertidur.
Pechorin memenuhi ajakan itu dan berjalan ke tepi pantai bersama Yanko, tentu
sebelumnya Pechorin sudah mempersenjatai diri jika terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan. Di sana, Yanko segera mengajak Pechorin untuk masuk ke dalam
perahunya. Pechorin sempat protes sebenarnya karena perahu tersebut langsung
berlayar begitu saja tanpa disadari olehnya. Yanko kembali melancarkan
rayuannya. Ia menempelkan pipinya ke Pechorin dan seketika saja Pechorin
menyadari bahwa pistolnya sudah dibuang ke laut. Perahu semakin jauh dari
pantai dan Pechorin segera menyadari bahwa ia dijebak. Di atas perahu, mereka
berdua kemudian saling dorong sampai akhirnya Pechorin berhasil menjatuhkan
Yanko ke laut. Pechorin segera mengambil dayung tua yang ada di dalam perahu
dan berlayar kembali menuju pantai.
Apakah
Yanko mati? Tidak. Ia berhasil kembali ke pinggir pantai, karena memang laut
adalah dunianya. Di sana ia dijemput oleh sebuah perahu lain. Sebelum pergi, ia
berkata kepada si Buta bahwa ia tidak akan kembali lagi ke tempat itu untuk
mengabdi kepada tuannya (entah siapa namanya Pechorin juga tidak tahu). Ia
hanya berpesan kepada si Buta untuk menjaga tempat itu karena banyak barang
berharga di dalamnya.
Tempat
lain yang dikunjungi Pechorin setelah Taman ialah Pyatigorsk. Di tempat ini
Pechorin bertemu tiga orang penting. Pertama, ia bertemu seorang kawan lama, Grushnitskii
namanya. Kemudian ia bertemu dengan Nona Pangeran Mary, seorang wanita
bangsawan yang nanti menjadi penyebab keretakan persahabatan antara Pechorin dengan
Grushnitskii. Selain itu ia juga bertemu cinta lamanya, Vera.
Sebagaimana
seorang wanita bangsawan pada umumnya, tentu Nona Pangeran Mary didekati oleh
banyak pemuda, termasuk Grushnitskii dan Pechorin. Saya tidak akan menceritakan
secara rinci bagaimana para pemuda tersebut berusaha mendekati Nona Pangeran
Mary, Anda pasti sudah bisa membayangkannya. Saya hanya ingin menyoroti
perbedaan di antara Grushnitskii dan Pechorin dalam mendekati Nona Pangeran
Mary. Grushnitskii bisa dikatakan cukup agresif dalam mendekati sang nona
bangsawan. Bagaimana tidak? Ke mana pun Nona Pangeran Mary pergi, Grushnitskii
mesti berada di dekatnya, seperti: makan, berdansa, berkuda, dan sebagainya. Sejujurrnya
menurut saya hal tersebut wajar-wajar saja karena Grushnitskii memang
benar-benar menginginkan Nona Pangeran Mary. Sebaliknya, Pechorin justru
bersikap acuh tak acuh. Terkadang Pechorin memujinya, terkadang juga ia
pura-pura tidak mendengar ketika Nona Pangeran berbicara. Ia bahkan pernah
secara terang-terangan menunjukkan ketidakpeduliannya pada penampilan Nona
Pangeran ketika sang nona bermain piano. Hal itu tentu saja membuat Nona
Pangeran geram karena semua orang saat itu memperhatikannya, hanya Pechorin
yang tidak. Pechorin memang sengaja melakukan itu untuk ‘menyiksa’ batin Nona
Pangeran. Meskipun begitu, Nona Pangeran Mary justru merasa lebih nyaman berada
di dekat Pechorin karena baginya Pechorin unik dan tidak membosankan. Akhir
dari kisah cinta antara mereka berdua saja yang tidak menyenangkan. Meskipun
Pechorin berhasil memenangkan hati Nona Pangeran, namun entah mengapa ia tidak
bisa menemukan seberkas cinta pun untuk sang nona. Pechorin menolak cinta sang
nona. Parahnya, penolakan tersebut dilakukan saat sang nona sedang sakit. Sakit
karena apa? Karena sikap Pechorin juga tentunya.
Lalu,
terkait Vera? Ya, Pechorin entah mengapa sangat senang menggantungkan perasaan
para wanita yang mencintai dirinya. Vera bahkan secara terang-terangan mengakui
kalau ia sudah tahu bahwa Pechorin hanya menyakiti batinnya, namun tetap saja
ia tidak bisa menghindar dari Pechorin. Ia sangat mencintai Pechorin, meskipun
saat itu ia sudah bersuami. Jangankan berada di dekat Pechorin, mendengar
suaranya saja sudah merupakan sebuah kenikmatan luar biasa bagi Vera.
Bagian
terakhir pada novel ini berjudul Fatalis. Tidak terlalu banyak yang diceritakan
sebenarnya, hanya bercerita tentang takdir. Inti cerita pada bagian ini ialah
ada seorang letnan, Vullich namanya, yang tidak percaya pada takdir. Baginya,
manusia sudah diberikan nalar untuk menentukan jalan hidupnya, jadi mana mungkin
ada ‘pihak’ lain yang bisa menentukan jalan hidup manusia melalui takdir? Kemudian
Pechorin saat itu hanya berkata kepada Letnan Vullich bahwa menurut Pechorin
sang letnan akan mati. Beberapa jam kemudian ditemukan sang letnan benar-benar mati.
Betapa terkejutnya Pechorin karena apa yang ia ‘ramalkan’ menjadi kenyataan.
Tamat.
Mungkin teman-teman merasa bingung dengan beberapa istilah yang saya sebutkan. Sengaja memang tidak saya jelaskan. Teman-teman bisa membaca penjelasannya secara lengkap langsung dalam novel ini.
Tamat.
Mungkin teman-teman merasa bingung dengan beberapa istilah yang saya sebutkan. Sengaja memang tidak saya jelaskan. Teman-teman bisa membaca penjelasannya secara lengkap langsung dalam novel ini.



Komentar
Posting Komentar